Powered By Blogger

Selasa, 07 Juni 2011

Lupakan Yang Buruk Ingat Yang Baik

Panas semusim hilang oleh hujan sehari.
Begitu kata pepatah orang-orang bijak kita di jaman dulu. Pepatah ini untuk menggambarkan betapa dalam hubungan dengan orang lain, seringkali kita melupakan kebaikan yang begitu banyak dimiliki seseorang hanya karena sedikit kekurangan atau kekhilafannya.

Dalam hubungan dengan orang yang kita cintai atau dengan pasangan, kita seringkaki terjebak pada pepatah di atas. Seringkali hal-hal sepele yang kita anggap salah atau tidak baik dari pasangan kita membuat kita marah besar, seolah melupakan semua kebaikan yang ada. Sebaliknya, begitu banyak kebaikan atau nilai positif yang sudah ditunjukkan oleh pasangan kita, tetapi kita tidak pernah mengingatnya.

Ketika kekurangan yang ada pada pasangan kita tampak, biasanya kita merasa tidak bisa menerimanya. Pada saat seperti itu, rasa cinta dan sayang yang ada dalam hati kita perlahan samar. Jika ini terjadi berulang-ulang, maka bukan mustahil rasa cinta itu hilang sama sekali berganti kebencian dan penyesalan.

Sebagai manusia, kita harus menyadari, bahwa setiap orang (termasuk diri kita sendiri) memiliki kelebihan dan kekurangan dan setiap orang bisa saja suatu kali khilaf. Begitu pula dengan pasangan kita. Sejauh kekurangan atau kekhilafan yang diperbuatnya masih dalam batas yang wajar, untuk apa terus dipersoalkan? Bukankan masih banyak kebaikan dan kelebihannya yang patut kita kenang?

Senin, 06 Juni 2011

Tahukah Anda . . .

* Kesedihan Dapat Menyebabkan Abses *

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, abses adalah radang jaringan tubuh yang memungkinkan timbulnya rongga tempat nanah mengumpul. Inilah pernyataan Dr. Joseph F. Montagno, penulis buku The Problem of Nervousness. Dalam buku tersebut Montagno mengatakan: "Penyebab abses yang Anda derita bukan berasal dari makanan yang Anda konsumsi, tapi karena "sesuatu" yang memakan dirimu." Majalah Lifes menulis, abses menempati urutan kesepuluh dalam daftar penyakit yang mematikan.


* Awas Terhadap Perkataan 'Akan' *

Tahukan Anda, ketika Anda mengucapkan kata 'akan', maka Anda sebenarnya telah terbuai oleh pikiran dan angan-angan kosong Anda sendiri. Perkataan 'akan' itu mahir membuai seseorang untuk selalu menunda agenda hidupnya. Seorang ulama salaf memberikan nasehat, "Saya mengingatkanmu tentang perkataan 'akan' . . .", sebab kata itu sudah banyak mencegah terjadinya kebaikan dan menunda dilakukannya perbaikan."
Dan al-Qur'an menyebutkan, "Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka)
(QS. al-Hijr: 3)


* Cemas Menimbulkan Sakit Gigi *

Barangkali belum pernah terpikirkan oleh kita bahwa cemas dan takut rentan terhadap timbulnya sakit gigi. Setidaknya itulah pendapat Dr. William Mark Gaugil. Dalam sebuah pidato ilmiah di depan Persatuan Dokter Gigi Amerika, ia mengatakan bahwa perasaan yang tidak bahagia seperti cemas dan takut sangat mungkin memberikan dampak terhadapa distribusi kalsium di dalam tubuh. Dan, menurutnya lebih lanjut, akan mengakibatkan kerusakan pada gigi.


* Cepat Mati Karena Depresi *

Ini untuk para pekerja. Dr. Alexis Carlyle mensinyalir bahwa para pekerja yang tidak tahu bagaimana menghadapi kesedihan akan mati lebih cepat. Kendati urusan ajal sepenuhnya ada di tangan-Nya.
Keterangan dari pemenang hadiah Nobel dalam bidang kedokteran ini setidaknya menegaskan bahwa salah satu sebab yang menghancurkan raga adalah depresi.


* Khayalan Memperkeruh Kegelisahan *

Tahukan Anda, kegelisahan hidup yang di alami oleh kebanyakan orang Indian bersumber pada khayalan, dan bukan pada realita kehidupan yang ada. Setidaknya itulah yang ditulis Jenderal George Kruck, seorang perwira yang termasuk paling anti terhadap orang Indian di Amerika.
Khayalan boleh jadi hanya menambah daftar rentetan kegelisahan. Dan, yang demikian, seyogyanya tidak perlu terjadi.

(dari berbagai sumber)

Mengedepankan Hidup

Dan orang itu pun berkata dengan sangat pilunya: " Ya laitani qadamtu lihayati . . . . (seandainya dulu aku mengedepankan hidupku) . . . . "

Kita tak tahu siapa orang itu. Karena ia bukan tokoh cerita dengan riwayat hidup dan karakter yang lengkap. Ia hanyalah sebuah tipe manusia yang diceritakan al-Qur'an dalam surah al-Fajr.

Ia adalah seorang hamba yang berkata bahwa ia telah diberi kemuliaan oleh-Nya karena hidupnya yang terhormat dan berlimpah rezeki. Ia juga adalah orang yang berkata bahwa ia adalah orang yang dihinakan oleh-Nya karena hidupnya yang merana. Padahal, Allah tengah mengujinya dengan kemuliaan untuk mengukur kadar syukurnya dan menguji dengan penderitaan untuk menguji kadar kesabarannya.

Dan al-Qur'an berkata bahwa sangkaan orang tersebut telah salah. Tidak semua kemuliaan adalah kemuliaan hakiki dan tidak semua penderitaan adalah kehinaan. Semua adalah ujian bagi kesalehan (syukur dan sabar) yang hasil ujiannya hanya bisa dilihat di akhirat dalam kemuliaan dan kehinaan yang tampak dan abadi.

Dan orang yang berkata itu digugat bahwa ia tidak mulia karena ia tidak memuliaakan anak yatim, tidak saling menganjurkan memberi makan orang miskin, memakan hartanya dengan menghimpun yang halal dan haram, serta mencintai harta dengan kecintaan yang melimpah.

Lantas orang itu menyesal kenapa ia dahulu tak mengedepankan hidupnya, yakni hidup abadi di akhirat. Tapi, hidupnya sudah dimulai. Tepat saat bumi dihantam-hantamkan, saat ketetapan Tuhan dihadirkan, malaikat berbaris dan neraka jahanam dihadapkan ke muka.

Ia tiba-tiba teringat akan kelalaiannya dengan satu ingatan yang demikian terang dan jelas. Ia ingat hidupnya di dunia dan bagaimana seharusnya hidup itu diperlakukannya. Namun al-Qur'an berseru dengan kalimat yang akan memukul hati siapa saja, "Tapi untuk apa lagi baginya mengingat!"

Maka ucapan itu pun terlontar dalam pedih dan kepiluan tiada taranya. "Seandainya dulu . . ." Naudzubillah min dzalik.

Sementara cahaya tampak bertaburan disebelahnya. Tampak ruh-ruh yang saat di dunia mengedepankan hidupnya, berlaku sabar dan selalu bersyukur dalam selimut takwa, melayang seraya tersenyum. Sayup-sayup terdengar sambutan Tuhan-Nya yang agung, menyongsong kehadiran mereka di akhirat-Nya, dalam kalimat sangat indah dan mengharukan.

"Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati rela lagi diridhai, maka masuklah ke dalam kelompok hamba-hamba-Ku yang taat, dan masuklah ke dalam surga-Ku." (QS. al-Fajr: 27-30)

Kami ingin kembali padamu-Mu, ya Rabb, dengan hati tenang, mendapat ridha-Mu, berbaris bersama hamba-hamba tercinta-Mu dan masuk ke dalam berkah surga-Mu. Amin.

(Hidayah 2007)