Dan orang itu pun berkata dengan sangat pilunya: " Ya laitani qadamtu lihayati . . . . (seandainya dulu aku mengedepankan hidupku) . . . . "
Kita tak tahu siapa orang itu. Karena ia bukan tokoh cerita dengan riwayat hidup dan karakter yang lengkap. Ia hanyalah sebuah tipe manusia yang diceritakan al-Qur'an dalam surah al-Fajr.
Ia adalah seorang hamba yang berkata bahwa ia telah diberi kemuliaan oleh-Nya karena hidupnya yang terhormat dan berlimpah rezeki. Ia juga adalah orang yang berkata bahwa ia adalah orang yang dihinakan oleh-Nya karena hidupnya yang merana. Padahal, Allah tengah mengujinya dengan kemuliaan untuk mengukur kadar syukurnya dan menguji dengan penderitaan untuk menguji kadar kesabarannya.
Dan al-Qur'an berkata bahwa sangkaan orang tersebut telah salah. Tidak semua kemuliaan adalah kemuliaan hakiki dan tidak semua penderitaan adalah kehinaan. Semua adalah ujian bagi kesalehan (syukur dan sabar) yang hasil ujiannya hanya bisa dilihat di akhirat dalam kemuliaan dan kehinaan yang tampak dan abadi.
Dan orang yang berkata itu digugat bahwa ia tidak mulia karena ia tidak memuliaakan anak yatim, tidak saling menganjurkan memberi makan orang miskin, memakan hartanya dengan menghimpun yang halal dan haram, serta mencintai harta dengan kecintaan yang melimpah.
Lantas orang itu menyesal kenapa ia dahulu tak mengedepankan hidupnya, yakni hidup abadi di akhirat. Tapi, hidupnya sudah dimulai. Tepat saat bumi dihantam-hantamkan, saat ketetapan Tuhan dihadirkan, malaikat berbaris dan neraka jahanam dihadapkan ke muka.
Ia tiba-tiba teringat akan kelalaiannya dengan satu ingatan yang demikian terang dan jelas. Ia ingat hidupnya di dunia dan bagaimana seharusnya hidup itu diperlakukannya. Namun al-Qur'an berseru dengan kalimat yang akan memukul hati siapa saja, "Tapi untuk apa lagi baginya mengingat!"
Maka ucapan itu pun terlontar dalam pedih dan kepiluan tiada taranya. "Seandainya dulu . . ." Naudzubillah min dzalik.
Sementara cahaya tampak bertaburan disebelahnya. Tampak ruh-ruh yang saat di dunia mengedepankan hidupnya, berlaku sabar dan selalu bersyukur dalam selimut takwa, melayang seraya tersenyum. Sayup-sayup terdengar sambutan Tuhan-Nya yang agung, menyongsong kehadiran mereka di akhirat-Nya, dalam kalimat sangat indah dan mengharukan.
"Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati rela lagi diridhai, maka masuklah ke dalam kelompok hamba-hamba-Ku yang taat, dan masuklah ke dalam surga-Ku." (QS. al-Fajr: 27-30)
Kami ingin kembali padamu-Mu, ya Rabb, dengan hati tenang, mendapat ridha-Mu, berbaris bersama hamba-hamba tercinta-Mu dan masuk ke dalam berkah surga-Mu. Amin.
(Hidayah 2007)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar